Penulis: Syahri Maghfirohtika
Editor: Triana Rahmawati
Pakaian sering kali dianggap hanya sebagai penutup tubuh, padahal sebenarnya ia merupakan media komunikasi sosial yang sarat makna. Melalui pakaian, seseorang dapat mengekspresikan identitas, status sosial, bahkan gender. Bagi kelompok rentan seperti Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dan Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK), cara berpakaian sering menjadi sorotan yang memunculkan stigma. Pakaian yang dianggap tidak sesuai dengan norma gender atau tidak sesuai dengan standar “kewajaran” kerap memperkuat stereotip negatif yang sudah melekat pada mereka. Hal ini sejalan dengan penelitian Boysen (2017) yang menunjukkan bahwa masyarakat cenderung mengaitkan gangguan jiwa tertentu dengan label gender tertentu antisosial sering dilekatkan pada maskulinitas, sementara gangguan makan dilekatkan pada feminitas. Dengan demikian, stigma yang dialami ODGJ dan ODMK menjadi berlapis, baik karena diagnosis medis maupun ekspresi gender yang ditunjukkan melalui pakaian.
Di Indonesia, perdebatan mengenai istilah ODGJ sendiri masih berlangsung. Lingkar Sosial Indonesia (LINKSOS) menilai penggunaan istilah tersebut justru memperkuat stigma, karena memposisikan penyandang disabilitas mental sebagai individu berbahaya atau tidak normal. Pandangan ini sejalan dengan temuan Satunama Yogyakarta yang menyebut bahwa stigma dan diskriminasi terhadap ODGJ/ODMK masih marak, dan sering kali pakaian menjadi indikator cepat bagi masyarakat untuk melabeli seseorang sebagai “aneh” atau “tidak waras”. Dengan kata lain, pakaian bukan sekadar ekspresi diri, melainkan juga menjadi medium yang menegaskan stigma sosial.
Psikologi sosial melalui teori enclothed cognition bahkan menegaskan bahwa pakaian memiliki dampak ganda: ia memengaruhi bagaimana orang lain menilai pemakainya, sekaligus memengaruhi cara berpikir dan berperilaku individu itu sendiri. Pada ODGJ/ODMK, kondisi berpakaian yang tidak sesuai norma misalnya baju terbalik, tidak serasi, atau tidak sesuai gender bisa dilihat sebagai bentuk ekspresi diri atau keterbatasan akses. Namun, bagi masyarakat, hal ini lebih sering dianggap sebagai bukti ketidakwarasan sehingga memperkuat stigma yang ada.
Stigma ini bahkan terbawa ke dunia pendidikan dan profesi kesehatan. Penelitian di STIKes Jenderal Achmad Yani Yogyakarta menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa keperawatan masih memiliki stigma sedang terhadap ODGJ. Temuan ini menunjukkan bahwa meski dibekali pengetahuan medis, calon tenaga kesehatan tetap terjebak pada stereotip, termasuk yang berkaitan dengan penampilan. Hal ini berpotensi memengaruhi kualitas pelayanan kesehatan jiwa di masa depan, karena pasien bisa mendapatkan perlakuan diskriminatif hanya karena cara berpakaian mereka.
Sementara itu, wacana publik di ruang daring seperti Reddit menyoroti bahwa gendered clothing sejatinya merupakan konstruksi sosial. Norma yang mengatur bahwa rok hanya untuk perempuan dan celana hanya untuk laki-laki merupakan hasil bentukan budaya, bukan sesuatu yang alami. Pandangan ini memberi ruang untuk memahami bahwa ekspresi berpakaian ODGJ/ODMK tidak semestinya dipandang abnormal, melainkan bagian dari keragaman ekspresi manusia. Sayangnya, perspektif ini belum sepenuhnya mengakar di masyarakat Indonesia yang masih cenderung memandang perbedaan sebagai penyimpangan.
Pada akhirnya, stigma terhadap ODGJ dan ODMK bukan hanya persoalan medis, melainkan juga soal budaya, bahasa, dan simbol-simbol sosial yang salah satunya termanifestasi lewat pakaian. Selama masyarakat masih melihat cara berpakaian sebagai tolok ukur kewarasan, stigma akan terus bertahan. Yang dibutuhkan bukan sekadar intervensi klinis, melainkan perubahan cara pandang: melihat pakaian sebagai hak dan ekspresi identitas, bukan sebagai bukti gangguan.
Referensi:
Adam, H., & Galinsky, A. D. (2012). Enclothed cognition. Journal of Experimental Social Psychology, 48(4), 918–925. https://doi.org/10.1016/j.jesp.2012.02.008
Boysen, G. A. (2017). Gender stereotypes of mental disorders. Psychology of Men & Masculinity, 18(4), 392–401. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/25280170/
Lingkar Sosial Indonesia. (2020). Stigma ODGJ bagi Penyandang Disabilitas Mental. Retrieved from https://lingkarsosial.org/stigma-odgj-bagi-penyandang-disabilitas-mental/
Satunama. (2022). Stigma kesehatan jiwa dan disabilitas masih bermunculan, literasi inklusif butuh dibangun. Retrieved from https://satunama.org/7401/stigma-kesehatan-jiwa-dan-disabilitas-masih-bermunculan-literasi-inklusif-butuh-dibangun/
STIKes Jenderal Achmad Yani Yogyakarta. (2016). Tingkat stigma mahasiswa keperawatan terhadap ODGJ. Media Ilmu Kesehatan, 5(1). Retrieved from https://ejournal.unjaya.ac.id/index.php/mik/article/view/155
Reddit. (2021). Discussions on gendered clothing and identity (r/lgbt & r/NonBinaryTalk). Retrieved from https://www.reddit.com
