Peran Art Therapy dalam Mendukung Pemulihan ODGJ dan ODMK

Penulis: Syahri Maghfirohtika
Editor: Triana Rahmawati

Seiring dengan meningkatnya kasus gangguan jiwa di Indonesia, kebutuhan akan pendekatan pemulihan yang lebih menyentuh aspek kemanusiaan menjadi semakin mendesak. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), prevalensi gangguan mental emosional (depresi dan kecemasan) pada usia di atas 15 tahun mencapai 6,1%, sementara prevalensi gangguan jiwa berat seperti skizofrenia mencapai 7 per 1.000 rumah tangga. Angka ini menunjukkan bahwa isu kesehatan jiwa bukan masalah kecil, melainkan persoalan serius yang menyentuh banyak lapisan masyarakat. Salah satu pendekatan yang kini banyak dilirik adalah art therapy, atau terapi seni sebuah metode yang memanfaatkan aktivitas seperti menggambar, mewarnai, dan melukis untuk membantu individu menyalurkan emosi, mengelola kecemasan, dan memulihkan kondisi psikologis mereka. Bagi ODGJ maupun ODMK, seni menjadi media ekspresi yang tidak menghakimi, tempat di mana perasaan dapat disampaikan tanpa harus selalu diucapkan.

Penelitian yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Purwareja Klampok 1 membuktikan bahwa coloring art therapy mampu meningkatkan kemandirian aktivitas harian (ADL) para penyintas. Dari semula hanya 50% yang mampu menjalankan aktivitas dasar secara mandiri, setelah mengikuti terapi, angkanya meningkat menjadi 79%. Ini menunjukkan bahwa kegiatan sederhana seperti mewarnai dapat memberi dampak besar terhadap kemampuan dasar sekaligus rasa percaya diri mereka. Sementara itu, studi lain di Panti Sosial Bina Laras Harapan Sentosa 1 Jakarta juga membuktikan bahwa art therapy dapat menurunkan tingkat depresi. Setelah mengikuti tiga sesi terapi melukis, para pasien skizofrenia mulai menunjukkan perubahan emosional yang positif dari rasa tertekan dan menarik diri, menjadi lebih tenang, berani mengekspresikan diri, dan terbuka terhadap lingkungan sekitar. Proses ini berjalan dalam suasana yang hangat dan aman, dengan warna-warna serta aktivitas kreatif yang membantu mereka mengolah emosi secara lebih sehat.

Kisah-kisah pemulihan ini sejalan dengan pendekatan yang diterapkan di Griya Schizofren, aksi pemberdayaan masyarakat berbasis komunitas yang untuk para penyintas gangguan jiwa. Art therapy menjadi bagian dari cara mereka untuk kembali mengenali diri, membangun rutinitas, dan merasa dihargai sebagai manusia utuh. Griya Schizofren memberikan ruang yang aman, tanpa stigma, di mana para penghuninya bisa tumbuh kembali secara perlahan dengan dukungan, penerimaan, dan kebersamaan.

Art therapy hadir sebagai salah satu alternatif pendekatan pemulihan yang dapat diterima secara lebih luas, terutama bagi ODGJ dan ODMK yang membutuhkan metode penyembuhan non-verbal dan lebih personal. Dengan menggambar, mewarnai, atau melukis, individu dapat menyalurkan emosi yang sulit diucapkan, serta menemukan kembali semangat dan kepercayaan diri yang sempat hilang. Dalam praktiknya, art therapy tidak berdiri sendiri, tetapi berjalan beriringan dengan dukungan lingkungan yang aman dan ramah, seperti yang dijalankan di Griya Schizofren. Kehadiran komunitas ini menunjukkan bahwa pemulihan mental tak melulu harus klinis, tetapi bisa dimulai dari ruang-ruang kecil yang penuh empati dan pengertian.

Referensi 

Alodokter. (2023). Mengenal Art Therapy untuk Meningkatkan Kesehatan Mental.
Diakses dari https://www.alodokter.com/mengenal-art-therapy-untuk-meningkatkan-kesehatan-mental

Aulianda, N. (2023, Oktober 14). Griya Schizofren: Harapan Orang dengan Masalah Kejiwaan.
Good News from Indonesia. Diakses dari https://www.goodnewsfromindonesia.id/2023/10/14/griya-schizofren-harapan-orang-masalah-kejiwaan

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas).
Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.

Pertiwi, Z. (2024). Pengaruh Coloring Art Therapy terhadap Aktivitas Harian (ADL) pada ODGJ di Puskesmas Purwareja Klampok 1. Jurnal Ilmiah Keperawatan, 7(2), 83–94.

Wulan, R. (2023). Terapi Seni dalam Rehabilitasi Penderita Skizofrenia di PSBL Harapan Sentosa 1 Jakarta. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 6(1), 192–198. [PDF]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *